Disaat semua anak remaja di sekolah gue hanya memikirkan tingkat kepopuleran mereka, gue hanya bisa memikirkan prestasi gue. Ya, itulah masa remaja sekarang. Mereka yang kaya dengan mudahnya membeli nilai, mereka yang kaya mendapat pujaan yang bagi gue pribadi sangat teramat tidak penting.
Nama gue Elysia Safa Haura atau biasa dipanggil Lysia, umur gue 16 tahun, gue bukan anak dari seorang pejabat, gue anak seorang karyawan di sebuah perusahaan. Tetapi gue ngga malu, papa gue selalu bekerja keras menghidupi gue sampai sekarang. Aku hanya tinggal berdua dengan papa. Aku tidak punya kakak ataupun adik, mama gue ninggalin gue sewaktu umur gue baru dua minggu. Sebab mama meninggalin gue adalah karena mama dijodohkan dengan orang lain. Mama dan papa menikah tanpa restu kedua orang tua mereka, tiba-tiba kakek dari mama gue merebut mama dari papa dan memaksa mama menikah dengan orang lain. Kakek gue ngga setuju mama menikah dengan papa karena alasan perbedaan status. Papa hanya anak dari seorang buruh pabrik sementara mama anak dari wakil direktur tempat kakek dari papaku bekerja. Sangat ironik kan?
Perbedaan status, ya itu menjadi salah satu dilema bagi setiap orang karena untuk meraihnya tentu dibutuhkan usaha yang sangat keras dan tentunya pendidikan yang sangat berkualitas. Maka dari itu gue selalu mengkhawatirkan nilai-nilai gue, merosot sedikit saja sudah membuat umur gue berkurang.
Pandangan gue kosong, entah ini karena kaget atau sedih, gue dikalahkan oleh sahabat gue, Adriell! Tiba-tiba dia ngagetin gue " Woooii, ngelamun aja! Mikirin ya ntar mau traktir gue apa? Gak usah muluk-muluk deh, mie ayam mas rohman juga oke!" Kata dia sambil menunjukkan sikap songongnya.
"Terus? Apa hubungannya nilai sama traktir-traktiran itu?" Jawabku dengan nada malas
"Kan kita sepakat kalo salah satu dari kita nilai matematika lebih dari 80, itu harus ditraktir sama orang yang nilainya kurang dari 70. Nah elo kan nilainya kurang dari gw, maka dari itu elo harus traktir gue!"
"Apa lu kata gue harus traktir elo, liat dong, cuma beda 2 poin doang, lo 82 gue 80!"
"Yah, gak ada yang traktir gue dong? Yah lys, traktir dong, gue lagi bokek nih"
"Krisis kok bilang-bilang gue? Emang gue bisa apa?"
"Yeh gak tau ya kalo dalam suatu negara itu kalo pemimpinnya gak jujur sama rakyatnya negara itu bakalan hancur"
"Nice speech, tapi pengen banget ya lo gue bantu? Hahaha"
"Aahh serius nih gue lagi bokek"
"Yaudah gini aja, abis pulang sekolah kita ke pasar, beli bahan-bahan buat masak"
"Yah kok ke pasar sih? Ke supermarket dong"
"Lu udah minta nawar lagi, mau apa ngga nih?"
"Apa boleh buat deh" dengan nada yang sangat pasrah
Avan pergi, ninggalin gue sendiri di kelas. Ingat-ingat kejadian minggu lalu saat Hilda kehilangan kalung bermereknya dan saat itu yang jadi sasaran tuduhan temen gue yang lain,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar